//
you're reading...
Uncategorized

“Specific Type”

Jam 5 sore lewat 20 menit, seperti biasa aku menjemput anakku dari nursery school (Jyounan Hoikuen). Ilham ( 5 tahun)  ada di Kiku kumi (kelas Kiku) sedangkan Aza (3 tahun) ada di Himawari kumi (kelas Himawari). Kubuka gerbang sekolah, dan akupun berpapasan dengan mba Faidha ( ibunya Alif kun, teman sekelas Aza), sedikit ngobrol tentang cuaca yang tengah mendingin menembus angka 9°C, sembari mengusap hanamizu yang mulai keluar dari hidung karena dinginnya udara.

Biasanya aku menuju kelas Himawari terlebih dahulu untuk menjemput putriku baru kemudian menjemput putra sulungku, Ilham. Namun, berhubung ada beberapa orang tua yang tengah mengantri di depan kelas Himawari, maka akupun membelokkan langkahku menuju  kelas Kiku. Disana aku langsung bertemu dengan Megumi sensei, beliau adalah wali kelas Kiku, yang mendampingi putraku sehari-harinya. Saat bertemu itulah, Megumi sensei banyak bercerita tentang bagaimana Ilham di kelasnya. Di kelas ilham tidak pernah berbicara sepatah katapun, kepada siapapun termasuk kepada teman-temannya yang notabene adalah anak-anak yang berusia sekitar 5  tahun. Ilham jarang sekali menyantap hiru gohan nya. Alhasil, kadang-kadang ketika ada sensei yang tidak terlalu sibuk, kemudian menyempatkan diri untuk menyuapinya ketika jam makan siang, hal ini juga sering diutarakan oleh Takagi sensei ketika bertemu. Ilham sering sekali berdiam diri ketika teman-temannya melakukan pergerakan keluar ruangan, atau ketika bersiap siap untuk tidur siang, yang hal ini kemunginan disebabkan karena dia sedang tidak ingin melakukan hal yang sama dengan teman-temannya. Suatu performa yang sangat kontras untuk anak seusia ilham yang tengah hidup di bumi Sakura ini. Jepang yang terkenal dengan homogenisasinya, dimana struktur ekonomi maupun sosialnya cenderung sama, sangat tidak mendukung jika kemudian melakukan hal yang berbeda. Megumi sensei pun berkali-kali mengungkapkan dou shio kana, bagaimana menangani Ilham, Ilham memiliki “specific type”. Sensei berbicara banyak mengakibatkan Ilham tidak suka, sedangkan sensei tidak berbicara atau berbicara sedikit, Ilham pun tidak mempedulikannya. Suatu kondisi yang aku sendiri tidak tahu bagaimana solusinya, karena sudah seringkali kucoba untuk mengajaknya berbicara di rumah mengapa dia tidak mau berbicara dan hampir tidak mau makan di sekolahnya, dan jawabnya hampir dipastikan sama, yakni tidak ada jawaban dan diapun menghindar…:(

Ketika hal ini kubicarakan dengan suamiku, suamiku hanya berkomentar bahwa hal ini adalah hal yang biasa karena sewaktu kecil dulu diapun tidak suka berbicara banyak dan cenderung hanya melakukan sesuatu yang disukainya.  Namun, di tengah-tengah kehidupan anak-anak Jepang ini, apakah Ilham tidak akan terpengaruh setidaknya berkeinginan untuk sedikit menjadi seperti mereka? Wallahu a’lam Bisawab, kata-kata yang haya bisa kulontarkan…sedikit putus asa memang :p

 

  • kiku : kelas
  • hanamizu :ingus
  • sensei : guru
  • hiru gohan : makan siang
  • dou shio kana : bagaimana

November, Japan

About soesi

just trying to write about my life journal, about experience of life with smile, laugh, worry,exciting and sometimes tears by time of time. just follow what have been given, have been told, have been directed by Allah. Life about learn, Life and love...

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Our Days

November 2011
M T W T F S S
« Oct   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1 other follower

Blog Stats

  • 2,731 hits
%d bloggers like this: